Ajari Aku Arti Sebuah Keikhlasan

Ini kisahku beberapa tahun yang lalu. Berada dalam satu titik terendah dalam hidup. Aku terlahir dalam keluarga yang sederhana namun berdidikan keras, maklum ayahku dulu seorang prajurit, sehingga didikan yang ia dapatkan diterapkannya dalam keluarga.

Aku merupakan anak terakhir dari tiga orang kaka perempuanku. Walau dalam didikan yang keras namun sifat ‘manja’ karena anak paling kecil masih sering ku tonjolkan. Aku habiskan masa kecilku dengan penuh keceriaan, layaknya anak seusiaku seperti biasa. Tak pernah sedikitpun aku merasa kurang akan kasih sayang dari keluarga besarku terutama ayah dan ibu.

Lain waktu ternyata lain lagi keadaan. Beranjak remaja masalah dan tekanan hidup mulai perlahan datang, aku mengidap satu kondisi dimana itu merupakan tekanan terbesar selama ini, ya mungkin sampai hari ini. Memang, aku bukan tipe orang yang mudah terbuka dengan orang lain. Bahkan untuk hal ini aku tak begitu terbuka pada orangtuaku sendiri, menurutku mereka hanya perlu tau. Walau sebenarnya ini membuatku semakin tertekan karena tak ada satu orangpun untuku curahkan segala keluh kesah ini. Aku lakukan ini semata karena aku tak ingin di anggap berbeda oleh mereka, aku ingin mereka mengenalku seperti aku sebelum kondisi seperti ini.

Pernah ku dulu dibuat tertekan oleh omongan orang, satu fase dimana aku sangat disudutkan ketika itu. Aku hanya bisa telan sendiri omongan itu yang sampai detik ini masih terngiang ditelingaku. Tak pernah sedikitpun aku mengadu kesedihan kepada ayah ataupun ibuku sendiri. Belajar ikhlas menerima semua hinaan tanpa bisa berbuat banyak.

Taun demi taun aku jalani dalam kondisi itu, sampai akhirnya aku mulai masuk bangku SMA. Lingkungan sekolah membuatku bisa sedikit melupan beban hidupku itu. Namun tak jarang otakku ini kembali dihatui oleh satu beban itu. Sering terlintas dalam benaku, “Mungkinkan aku bisa sembuh?, menjadi seperti aku ketika lima enam tahun dulu?, Bagaimana masa depanku kelak jika aku akan terus dengan kondisi yang seperti ini?”.. Sungguh ketika itu aku merasakan stress yang luar biasa.Karena aku sendiripun bingung harus bagaimana.
Mungkin bangku SMA bisa sedikit menghilangkan fikiranku akan hal ini, namun tidak untuk masalah selanjutnya. Ya, awal duduk di bangku inilah kini bagian dari sisi keluargaku yang mendapat cobaan hidup.

Pertama cobaan ini terjadi pada kaka pertamaku. Kedua ponakanku itu akan menjadi anak “brokenhome”.. Satu konflik yang terjadi dalam rumah tangga kakaku hingga akhirnya memang tak bisa lagi untuk dipertahankan. Hancur rasanya melihat kaka pertamaku menangis karena kegagalannya itu, tak pernah terbayangkan salah satu kaka terkasih ku akan demikian. Mungkin karena aku dan ketiga orang kaka perempuanku satu sama lain sangat dekat, jadi aku benar-benar bisa merasakan rasa sedih itu, seolah aku ada dalam posisi yang sama.

Waktu kian berlalu, beberapa bulan setelah kejadian itu masih dalam suasana keluarga yang masih terpukul, kini giliran ibu yang mendapat cobaan. Aku shock ketika pulang setelah mengikuti salah satu ekstrakulikuler di sekolahku ayah berkata dengan nada rendah jika tadi pagi ibu masuk rumah sakit. Sedih, Cemas tentunya sudah pasti aku rasakan kala itu berhubung ini adalah kali kedua mama masuk rumah sakit tak begitu lama dari perawaannya waktu pertama.Mungkin hampir dua bulan ibu dirawat disana, dan selama itu pula fikiranku selalu kalut terlebih melihat kondisi ibu yang makin sini makin memburuk. Akupun tak pernah merasa konsentrasi ketika kegiatan di sekolah, mungkin karena aku teramat dekat dengan ibu sehingga aku merasa sangat kehilangan ketika ada di rumah. Melihat tubuhnya yang kini hanya tinggal tulang terbungkus kulit membuat batinku menjerit. Namun aku tak nampakan rasa sedih itu pada ibu dan pada keluargaku. Begitu juga keluargaku, aku yakin pada saat itu merekapun merasakan hal yang sama.
“Ya Gofar, tak ingin sedikitpun hal buruk menimpa ibu tercintaku ini”..

Tak selang lama dari sana, kaka ketigaku kini mengalamai hal yang serupa. Dia masuk rumah sakit, bahkan satu kamar dengan ibuku sendiri. Astagfirullah.. cobaan apa lagi ini ya Rahman.?
Syukurnya setelah menjalani perawatan disana mama dan kakaku kini berangsur pulih dan diperbolehkan untuk pulang. Senang rasanya ketika keluarga bisa utuh kembali tuk berkumpul dirumah.
Namun kepulangan ibu mungkin penggantian untuk masalah berikutnya. Entahlah.. tahun ini keluargaku benar-benar sedang mendapat cobaan. Begitu bertubi-tubinya, tak pernah henti cobaan demi cobaan menerpa keluargaku.

Kaka keduaku mengenalkan seorang pria pada kluargaku. Pria yang kini sedang dekat dengangnya. Awal aku dikenalkannya memang nggak srek, entah kenapa hatiku merasa tidak rela jika kakaku memilih orang itu. Sama halnya dengan keluarga besarku, mungkin melihat latarbelakang pria itu. Sempat terjadi konflik antara kluarga besarku dengan kakaku satu ini karena pihak keluargaku tak sedikitpun setuju jika kakaku menjalin hubungan dengan pria itu. Kali ini keluarga besarku terheran-heran, sungguh benar-benar tak menyangka begitu kerasnya sikap kakaku. Untuk saat ini kaka yang dulu paling baik dari segi apapun, kini berubah keras. Aku sendiripun heran, seolah pikirannya sedang diracuni sehingga dia rela mati-matian membela pria itu. Namun konflik itu tak berjalan lama, mungkin karena orang tuaku melihat dari pihak kakaku sehingga mau tidak mau mereka merestui hubungannya.

Seling dari konflik itu kini kaka ketiga yang dulu sempat menjalani perawatan kini sakit kembali, entah kenapa kini sakitnya tidak wajar. Dia sering merasa ada yang mengikutinya.Entah apa itu akupun tak mengerti, namun yang jelas dia merasa amat sangat terganggu akan hal ini. Pengobatan medis sudah ia jalani, tapi tak ditemukan apa yang menjadi penyakitnya. Melihat hal ini, pacarnya yang memang sudah dulu keluargaku kenal menyarankan jika apa salahnya mecoba pengobatan alternative dan semacamnya. Kali ini seorang ustadz nampaknya yang mengobati kakaku. Namun kali ini aku dan keluarga teramat terkejut mendengar apa yang seorang ustadz itu katakana, jika ada yang salah dalam rumahku. Kluarga kupun sejujurnya tak mengerti apa yang “salah” itu. Namun ustadz itu menyarankan jika pengobatan sebaiknya dilakukan di rumahku saja.
Seminggu kemudian tepatnya malam jumat ustadz itu datang kerumah beserta pacar dan ayah si pacar dari kakaku. Aku sempat kaget, ko pengobatannya malam-malam gini.? Aneh.!

Sesampainya dirumah, beliau menjelaskan jika ada seseorang yang mengirimkan barang gaib ke rumahku. Entah apa itu, yang jelas dia menyebutkan barang itu dikirim dari seseorang yang dulu menginginkan kaka ketigaku itu, namun karena kakaku tak suka, ia akhirnya main belakang. Aku dan kluargaku tak percaya awalnya tentang hal-hal mistis seperti itu. Karena menurutku itu tahayul saja..

Pengobatan itu dilakukan kira-kira jam setengah satu dini hari, pa ustadz menyarankan aku, semua kaka perempuanku, orang tua serta kedua keponakanku untuk melakukan dzikir bersama. Dengan sebuah keris pa ustadz itu terlihat lari-lari dalam rumahku, seolah mengerajar sesuatu yang sulit untuk di tangkap. Tak lama kemudian pa ustadz menyuruh ayahku untuk menggali tanah di halam rumah, dengan disertai lantunan dzikir pa ustadz dengan sigapnya membantu ayahku.Tak lama, tiba-tiba pa ustdz tersebut mengambil sesuatu dari dalam tanah yang baru saja ayahku gali. Sebuah benda seukuran tiga buah jari yang di bungkus oleh beberapa lapisan plastik dan diikatkan oleh beberapa buah karet. Begitu terkejutnya aku dan keluargaku setelah pa ustadz tadi membuka dan memperlihatkan isi benda itu. Astagfirullah.. ternyata isinya pecahan kaca bubuk, paku yang sudah berkarat, tanah, kain putih dan kawat yang sudah berkarat pula. Beliau menjelaskan bahwa ini yang menyebabkan kakaku sakit dan nampanya barang itu sudah tersimpan bertahun-tahun terlihat dari karat yang menempel pada paku dan kawat. Hal yang sangat tak wajar menurutku..

Dari kejadian itu percaya ga percaya rasanya karena memang aku dan keluargaku melihat sendiri barang itu ketika di ambil dari dalam tanah. Namun syukurnya setelah pengambilan barang aneh dirumahku itu, kini kondisi kaka ketigaku mulai perlahan membaik kembali. Memang, sebelum aku tahu jika ada yang aneh dalam rumahku dan sebelum barang itu di ambil oleh pa ustadz aku sendiripun merasa tak nyaman jika berada dalam rumah. Rasanya ga enak aja, entah mengapa.

Beberapa bulan dari sana, kebahagian datang dari kaka kedua dan ketigaku. Mereka menikah hanya berselang beberapa bulan saja. Walau sebenarnya untuk kaka keduaku, aku merasa sedikit sedih karena ia sekarang memang benar-benar menikah dengan pria yang tak disetujui oleh keluargaku. Jujur saja, tak pernah sedikitpun aku respect dengan pria satu ini.

Kaka ketigaku kini tinggal dengan suamin ya di cianjur, di sebuah asrama militer disana. Tinggal kaka kedua dan suaminya serta kaka pertamaku yang ada di rumah. Awal pernikahan kaka keduaku biasa saja, tak ada masalah. Namun beberapa bulan kemudian pria yang ia nikahinya mulai bersikap kurang ajar. Tak pernah sedikitpun ia nafkahi kakaku ini, bahkan ia jarang pulang ke rumah. Sebenarnya aku beserta keluargaku teramat kesal melihat tingkahnya yang semena-mena. Apalagi tingkahnya itu makin hari makin membuat hati panas. Aku kadang jengkel dengan kakaku sendiri, sikapnya terlalu sabar ku anggap, dia malah yang lebih sering mengajak suaminya untuk beribadah. Ya, memang benar.. Tak salah jika seorang istri yang lebih mengajak suaminya untuk lebih meningkatkan ibadahnya. Namun melihat sikap dan prilakunya ketika itu sungguh “dia tak layak untuk dikata sebagai imamnya rumah tangga”.

Ternyata keluargakupun sama, memendam rasa kekesalan terhadap pria yang ia nikahi selama beberapa bulan itu. Terlebih kini kakaku sedang mengandung,, Masa-masa yang kupikir butuh kasing sayang suami. Namun apa boleh buat, aku dan keluargaku pendam rasa kekesalan itu karena hanya satu hal, “aku masih menghargai kakaku sebagai seorang istri”. Jika bukan karna melihat kakaku, mungkin sudah kumaki dia.
Hari demi hari sikapnya masih tetep sama, sampai akhirnya kakaku melahirkan dua orang bayi kembar. Dua-duanya berjenis kelamin perempuan. Alhmdulilah, sekejap rasa kesal yang bulan-bulan kemarin aku rasakan kini berubah dengan rasa bahagia. Terlebih kini aku memiliki ponakan kembar.

Hal ini ternyata tak sedikitpun menyentuh hati pria itu. Sikapnya masih tetap sama, bahkan lebih buruk. Ia tak pernah pulang ke rumah, memberikan nafkah bahkan hanya untuk menengok anak mungilnya dia tak pernah. Tak sedikitpun ia menghargai aku dan keluarga besarku. Terlihat dari sorot mata kaka keduaku jika dia merasa sangat kecewa, sedih, bahkan untuk kali ini putus asa. Namun tak pernah sedikitpun ia mengeluh tentang sikap suaminya kepada keluargaku. Kulihat dia hanya memendamnya sendiri. Terlihat sangat tegar kala itu,, Aku masih sangat ingat, empat bulan setelah si kembar dilahirkan, kakaku jatuh sakit. Mungkin karena terlalu lelah mengurus kedua anak kembarnya sendiri serta memikirkan suami yang bertingkah bejat..

“Sakit Demam”.. itulah gejala awal kakaku sakit. Beberapa hari sembuh namun setelah itu kembali sakit lagi. Bulan pertama sakit, ia masih bisa menyusui kedua orang ponakanku itu. Namun setelah bulan berikutnya ia tidak bisa lagi karena kini perlahan tubuhnya surut. Badan yang tadinya gemuk kini sangat jauh berbeda. Ya, sangat teramat kurus. Jauh dari sebelumnya. Berbagai tempat pngobatan dari dokter sampai pengobatan alternative sudah kami jalani. Namun entah mengapa kondisinya makin sini makin memburuk. Tak ada sedikitpun perubahan. Namun kala itu ketika menjalani pengobatan alternative, orang yang mengobati hanya mengatakan “Neng, sungguh rasa sabar dan istiqomah neng luar biasa. Mungkin jika Bapa berada di posisi neng sekarang, bapa nggak akan kuat untuk ngejalaninya.” Begitu ujarnya kepada kaka keduaku itu. Kakaku hanya tersenyum, tak sedikitpun mengeluarkn kata-kata. Ya, aku yakin itu bukan semata hanya karena penyakit, namun lebih banyak fikiran dari kakaku melihat sifat suaminya yang sangat acuh terhadapnya.
Kali ini keluargaku tak ambil diam, pria bangsat yang sudah menyebabkan kakaku sakit seperti ini kini ku labrak, berharap sikapnya bisa berubah terhadap keluarganya sendiri. Namun ternyata sekali bersikap layaknya setan tetap saja setan. Kakaku yang senantiasa menantinya untuk kembali pulang, tak pernah ia tengok sedikitpun. Sungguh menjerit hati ini melihat kakaku tersakiti.

Dilain cerita aku mendapat kabar via telpon dari kaka iparku di asrama. Dia memberi kabar bahwa istrinya sedang tak sadarkan diri. Sering dia mengalami hal seperti itu.. Sampai kita dibuatnya sangat khawatir. Disatu sisi kaka keduaku sedang sakit keras di rumah namun disisi lain kaka ketigaku sering tak sadarkan diri dengan tiba-tiba. Ternyata kejadian mistis yang terjadi kepada kaka ketigaku dulu membawa efek negative sekarang. Mentalnya shock karena akhir-akhir ini dia sering melihat hal-hal ghaib. Satu keadaan dimana benar-benar kebingungan besar kluargaku. Kluargakupun segera mencari pengobatan untuk menyembuhkan mentalnya yang mulai lemah. Dan syukur alhamdulilah kini kejadian itu terjadi tak sesering dulu yang apabila datang jam-jam maghib selalu kumat.

Ketika itu aku masih berada di bangku SMA tahap akhir, tepatnya ketika aku sedang melaksanakan praktek kerja lapangan. Sore itu aku pulang praktek. Seperti biasa aku selalu antar jemput oleh ayahku. Dalam perjalanan pulang ayahku berkata bahwa Andri, adik kelasku yang tak lain adalah tetangga jauhku tadi pagi mninggal di rumah sakit akibat kecelakaan. Aku terkejut mendengarnya, entah apa yang orang tuanya kini rasakan. Ditinggal meninggal oleh anak bungsunya. Bahkan aku sempat berkata pada ayahku kala itu, bagaimana sedihnya orang tua dari anak itu ya pah..??? tanyaku, “sangat sedih lah tentunya, hancur harapan dan cita-cita orang tua rin jika anaknya sampai demikian”, jawab ayahku waktu itu..
Dua hari ini kaka kedua yang tinggal dirumahku mendadak sakit lebih parah. Badannya lemas juga demam. Entah kenap bisa demikian, karena kemarin-kemarin kondisi kakaku mulai membaik. Aku pikIr mungkin dia terlalu kecapean hari ini. Namun hari senin pagi kondisi kakaku makin memburuk, kali ini untuk pergi mengambil air wudhupun harus aku gendong. Aku menyarankan kepadanya untuk bertayamum saja. Namun ia menolaknya, ia tetap keukeuh memintaku untuk mengantarkannya.

Selama kakaku sakit, jujur fikiranku selalu kalut. Memikirkan kondisi kakaku yang demikian. Karena dia kaka yang teramat dekat denganku dari kecil sampai sekarang. Mungkin itu adalah pagi terakhirnya aku bersama kaka yang paling aku sayangi itu. Karena senin sore ketika aku pulang kerumah, kulihat kondisi kakaku sedang tertidur di kamar ujung dengan di kerumuni banyak orang. Kakiku langsung lemas seketika, tak bisa ku ungkapkan perasaan yang begitu kalut pada saat itu. Kulihat ia sesekali membuka matanya, melihat orang-orang di sekeliling. Bahkan ketika masuk salat magrib, ia masih sempat untuk shalat, walau dalam kondisi duduk di tempat tidur. Masuk ke badal isya, kini kondisi kakaku makin kian memburuk. Paman, bibi, serta nenekku menangis melihat kondisinya. Jujur, aku tak mengerti apa yang mereka tangisi pada saat itu, yang ada dalam benakku pada kala itu hanya “esok pagi kakaku akan terbagun dengan kondisi sehat seperti dulu”. Tak ada satu anggota keluarga intiku yang menangis, karena sejak kecil aku dididik kedua orang tuaku untuk sebisanya tak memperlihatkan air mata ketika ada orang yang sedang terkena musibah. Ya, walau aku akui genangan air mata ini hanya bisa tertumpah ketika aku melakukan sembahyang saja. Ketika aku curahkan segala kesedihanku pada Sang Khalik.

Mungkin kira-kira pukul delapan malam, kini dirumahku hanya ada keluarga intiku saja. Nenek, paman serta beberapa bibiku mulai pulang. Karena pada saat itu kondisi kakaku mulai stabil kembali, ia memohon semua orang untuk tidak menangis karena melihat kondisinya itu dan ia menegaskan kembali jika ia memang baik-baik saja. Kini hanya ada aku, ibu, ayah, kaka ketigaku serta keponakanku yang kala itu sudah terlelap tidur. Kebetulan kaka pertamaku sedang kerja malam pada saat itu.

Aku berkumpul bersama di kamar tempat kakaku terbaring, ibu,aku serta kaka ketigaku melakukan obrolan kecil. Berusaha untuk menghibur sang kaka yang sedang sakit. Ia sadar pada kala itu, tapi suaranya memang sudah agak berbeda, terdengar tak jelas dan lemas. Aku sempat bertanya apakah kakakku sudah shalat isya, dengan suara yang mulai melemah itu ia berkata “ya, aku sudah salat isya tadi, dalam niatku”. Memang kali ini untuk duduk saja kakaku sudah tak mampu bahkan hanya untuk sekedar mengangkat tangannyapun sudah tak bisa. Ia memintaku untuk mengganti pakaian yang ia kenakan dengan pakaian yang bersih. Dengan segera aku menyiapkan pakaian dari dalam lemarinya. Selesai ku pakaikan pakaiannya, ia berkata jika ia ingin tidur. Aku beserta kaka ketigakupun segera meninggalkan kamar itu, tak ingin mengganggu tidurnya. Namun ibu tetap mendampinginya dalam posisi tertidur juga. Diiringi dengan lantunan surat yassin oleh ayahku, dan pelukan hangat dari ibuku, ia pun mulai tertidur pulas. Kita semua merasa lega, karena fase-fase kritis kakaku kini sudah terlewati. Kala itu aku berniat untuk bangun tengah malam, melakukan salat tahajud serta hajat untuk memohon kesembuhan untuk kakaku. Namun jam Sembilan lebih seperempat malam, tiba-tiba suara ayah yang sedang membacakan surat yassin mulai terasa seperti orang yang sangat gugup. Masuh dalam kondisi mata terpejam, kakaku melantunkan bacaan istigfar tiga kali dan terakhir menyebutkan “Lailaha illallah..muhamaddarasullullah,salalohu’alaihi wassalam..” masih dengan suara yang pelan kala itu. Beberapa detik dari sana ayahku berkata, “Innalillahi waina ilaihi roji’un” sambil menyiumi pipi kakaku. Aku dan kaka ketigaku yang kala itu sedang tiduran di ruang tengah langsung sontak saling melihat. Kita langsung pergi ke kamar untuk melihat apa yang terjadi. Ibu kala itu tak menyangka apa yang saat itu sedang terjadi, ia hanya menyangka jika kakaku sedang terlelap tidur.

Sungguh sangat terkejut, kakaku yang penyabar dan pembimbingku selama ini, kini sudah tiada. Seolah malam itu terpecah oleh tangisan aku, ibu serta kaka ketigaku.

“Ya Allaaaahhhhhh……. Begitu tak adilnya Kau ambil kakaku ini dengan sangat cepat.”

Tak bisa aku lukiskan bagaimana perasaan kala itu, Sungguh kesedihan yang teramat sangat luar biasa. Tak pernah terbayang sebelumnya jika ini akhir dari kesedihanku. Ayah Nampak sangat tegar tak seperti yang lainnya, Beliau satu-satunya orang yang tak menangis kala itu, bahkan sampai kakaku dimakamkan. Bahkan ia menyarankan pada ibu yang saat itu benar-benar shock hebat untuk tidak menangis. Ia berkata “jangan di tangisi, setiap orang punya suratan tersendiri, harusnya kita bangga, anak yang dulu kita didik kini ia meninggal dalam keadaan sholehah”..

“Ya Allah… ajari aku arti sebuah keikhlasan untuk menerima cobaan terbesar dalam hidupku ini, cobaan yang sejak dulu aku dan keluargaku alami selama bertahun-tahun lamanya kini harus di akhiri dengan sebuah perpisahan hidup dengan salah satu keluargaku..”

“Ya Robb, jika ini terbaik untuku beserta keluargaku, kan kucoba jalani dengan ikhlas.. tapi kuatkanlah kami ya Rahim atas cobaan yang Kau berikan ini, sungguh tiada daya upaya kami sedikitpun kecuali atas pertolonganMu”

Sungguh sangat kacau kondisi keluargaku pada saat itu, ibu yang masih dalam proses pemulihan karena sakit dulu kini harus mengalami depresi terberat dalam hidupnya, hanya dua anak perempuan kembar dari hasil pernikahanku yang bisa mengobati rasa sedih kala itu. Sungguh sedih melihat dua ponakanku yang kala itu masih berusia delapan bulan harus menerima kenyataan pahit di tinggalkan ibu terkasih meninggal. Muka polosnya tak mengerti apa yang sedang terjadi kala itu..

Pria bangsat suami kakaku tak kunjung datang, keluargaku sudah berusaha mencari pria itu untuk mengabarkan berita duka ini. Namun memang, rupanya dia sudah berjiwa iblis sehingga tak dihari kematian istrinyapun ia tak Nampak. Mungkin empat hari setelah sepeninggalan kakaku, pria bajingan itu baru datang ke rumah. Akhirnya ia mendapat bogem mentah dari berbagai sisi, sampai ketika pulangnya pun seluruh mukanya habis babak belur dan tak lupa motor yang dulu pemberian kakaku itu ringsek total. Karena memang, Sampai detik inipun keluargaku masih menyimpan amarah jika teringat lagi pria itu, secara tak langsung kakaku meninggal disebabkan oleh pria yang sifatnya sudah melebihi iblis ku bilang.

Pernah ketika beberapa hari setelah meninggal aku melihat ayah dalam jendela kamar sedang menatapi foto kakaku ketika bulan desember 2005 lalu wisuda, dia duduk sendiri di ruang tengah dan terlihat sangat terpukul, terlihat olehku tangannya mengusap foto kakaku. Dan untuk pertama kalinya seumur hidupku aku melihat ayahku menangis. Jelas, batinnya sangat hancur kala itu, namun ia tak pernah nampakan kesedihannya kepada kami.

Sepeninggalan kakaku, kondisi mama kian drop kmbali, ayahku terlihat tak banyak bicara kini, kaka-kakaku pun sering berkeluh kesah kepadaku. Satu problematic hidup kala itu, karena aku tak bisa berbuat apa-apa. Batinku kini menangis melihat kondisi ini, terlebih rasa sedih itu masih kental terasa. Stres berat saat itu, sekolahku hampir amburadul karena kondisi ini.

Aku bahkan berkata “Aku tak suka jadi dewasa”.. Karena jujur, melihat kondisi yang amburadul ini aku berfikir “aku yang harus menguatkan semua keluargaku”.. Namun ternyata sangat berat menjalani semua itu, Aku hanya bisa menangis meluapkan gundukan perasaan jika tidak ada di rumah.
Berusaha menegarkan dan memberikan semangat baru untuk keluargaku, bahkan jauh di lubuk hatiku sebenarnya akupun lemah, lebih lemah dari mereka.. Tak ada semangat hidup rasanya kala itu.. Benar-benar merasa hidup sendiri, memikul beban berat sendiri.

Yah, inilah ujian hidup yang harus aku jalani.. Tekanan hidup datang dari dalam diriku sendiri dan dari dalam keluargaku. Tapi inilah yang kini membuatku berpikir lebih dewasa. Karena kedewasaan itu muncul dari masalah hidup yang ada. Aku syukuri nikmat ini, sungguh Allah sedang menyiapkan sesuatu yang lebih indah di ujung nanti untukku dan seluruh keluargaku. Dan benar, Subhanallah.. aku mulai sembuh dari penyakitku dulu..kaka ketigaku pulih dari sakit aneh itu. Ibuku juga sudah sehat kembali, bahkan badannya mulai berisi lagi, begitu pula dengan kedua ponakan kembarku, mereka kini usianya menginjak 2 tahun lebih, sudah pintar ini itu. Dari titik nol kini aku dan keluargaku mulai bangkit kembali..

Dan hal ini yang membuatku semakin memperkuat akan fikiran negatif untuk semua pria. Bahwasannya mereka sama..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: