Ami, Begitulah Namanya

“Bu Ami” sebuah nama yang ku kenal waktu awal masuk bangku SMA. Mengajar salah satu sub pelajaran computer saat itu. Dengan sebuah balutan jilbab yang menutupi seluruh tubuhnya teramat anggun terlihat. Parasnya cantik, suaranya terdengar lebih lembut dibanding guruku yang lainya. Sifatnya yang kalem tak banyak bicara itu membuatku semakin mengagumi ibu satu ini. Namun sikapnya yang tak banyak bicara itu membuatku segan untuk lebih akrab dengannya.

Hanya satu tahun saja dia mengajar di kelasku. Selebihnya ia mengajar di salah satu jurusan lain. Kini tak sering lagi aku bertemu dengannya, bahkan semakin jarang takala ku dengar ia sedang disibukan dengan S2 nya. Ia merupakan guru favoritku waktu itu, karena ku lihat ia berbeda dengan guru seusianya, terlihat sangat santun dan berwibawa.

Entahlah, apakah ini satu kebetulan atau hanya satu ketidaksengajaan saja. Namun menurutku ini bukan hanya sebuah “kebetulan” semata, namun ini merupakan kuasa Tuhan untuk memberikan jalan agar aku terlepas dari permasalahan dan beban hidup yang menghimpitku selama ini. Bayangkan saja aku mengenalnya lewat sebuah tulisan di internt kala itu, sebuh tulisan yang kucari-cari selama ini, sebuah tulisan yang ia tulis dalam blog pribadinya dan selama aku menjadi member disana aku tak sedikitpun mengira jika pemilik blog tersebut adalah guruku sendiri. Dan kini aku dipertemukan dengannya dalam satu kondisi yang sama.

Satu sore aku mendapat message lewat YM dari orang pembuat blog tersebut. Tegur sapa seperti biasa aku lakukan. Namun terasa sangat “Shock” luar biasa, ketika ia menjabarkan semua identitas asliku. Dia tahu siapa nama asliku, alamat sekolahku, dan jurusanku saat itu. Padahal aku hanya mencantumkan nama alias beserta alamat emailku saja, tak lebih.

Tubuhku spontan terasa sangat lemas, badanku panas secara tiba-tiba, detak jantungku mulai terdengar lebih cepat dari biasa, dan tak terasa air mata mulai tak terbendung keluar.

Kalut, menilai kini ada org yang tau identitas asliku dengan kondisiku sekarang. Namun rasa sedih itu kini spontan berubah menjadi rasa “kaget” ketika ia mengatakan “ini ibu..”

Tak bisa terbayangkan bagaimana perasaan kala itu, Beban hidup selama delapan tahun kini pecah dengan sebuah tangisan. Aku merasa sangat lega, batinku kini mulai menemukan satu pencerahan, satu tempat untuk meluapkan tumpukan beban ini.

Sungguh, kala itu aku malu pada diriku sendiri. Orang biasa yang hanya bisa mengeluh tanpa adanya rasa semangat tuk hidup, Jauh dari sosok dia yang selain cantik parasnya juga dibarengi dengan cantiknya akhlaq seorang muslimah.

Semenjak itu aku mulai dekat dengannya, tak jarang kami sering berbagi cerita. Rasa kagumku kian bertambah ketika aku mendengarkan pengalaman hidupnya selama ini. Dan baru sekarang aku melihat ketabahan seorang wanita, keteguhan, ketegarannya dalam menghadapi cobaan hidup. Batinkupun ikut menangis ketika ia kisahkan beberapa cerita hidupnya.

Guruku adalah cerminan hidupku kini. Ya.. ia merupakan cerminan seorang wanita hebat, aku banyak belajar darinya, dari soal menghadapi masalah hidup serta cara mengatasinya dengan bijak. Dan ia kini menjadi salah satu penyemangat hidupku. Menjadi motivator satu nasib. Kini aku merasa tak sendiri lagi, karena kita selalu saling menguatkan. Thanks God, Kau berikan aku seorang sahabat hidup yang benar-benar mengerti apa yang menjadi beban terberat dalam hidupku.

One response to this post.

  1. Posted by kanojo on July 30, 2010 at 6:21 am

    I am carried away with this….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: